Pengobatan ruqyah dikenal luas di tengah masyarakat Muslim sebagai ikhtiar spiritual yang dilakukan dengan membaca ayat Al Quran, doa, serta zikir untuk memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah SWT. Ruqyah sering dikaitkan dengan gangguan spiritual, tetapi dalam penerapannya juga digunakan sebagian umat Islam ketika menghadapi sakit, kegelisahan, ketakutan, atau keadaan yang membuat seseorang merasa membutuhkan penguatan secara rohani.
Kementerian Agama menjelaskan ruqyah sebagai usaha penyembuhan melalui pembacaan ayat suci Al Quran. Ruqyah sekaligus dipahami sebagai usaha seorang Muslim mendekatkan diri dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Dalam ruqyah syar’iyyah, bacaan dan cara yang digunakan harus berada dalam ajaran Islam, bukan menggunakan mantra yang tidak diketahui isinya atau meminta bantuan kepada selain Allah.
Hal yang perlu diperhatikan, pengobatan ruqyah tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan pemeriksaan kesehatan. Keluhan seperti kejang, kehilangan kesadaran, halusinasi, perubahan perilaku berat, nyeri berkepanjangan, sesak napas, atau gejala fisik lain dapat mempunyai penyebab medis yang perlu diperiksa. Kementerian Kesehatan menyebut halusinasi dapat berhubungan dengan berbagai kondisi kesehatan jiwa maupun penyakit fisik sehingga memerlukan penilaian yang tepat.
Apa Itu Pengobatan Ruqyah dalam Ajaran Islam?
Secara sederhana, pengobatan ruqyah merupakan pembacaan ayat Al Quran, zikir, serta doa dengan tujuan memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah. Praktik tersebut telah lama dikenal dalam tradisi Islam dan sampai sekarang dilakukan baik secara mandiri maupun dengan bantuan orang yang memahami tata cara ruqyah.
Dalam praktik masyarakat, istilah ruqyah kerap langsung dikaitkan dengan gangguan jin atau sihir. Pandangan semacam itu membuat sebagian orang mengira seseorang baru perlu melakukan ruqyah ketika mengalami kejadian yang dianggap tidak biasa.
Padahal, pengertian ruqyah syar’iyyah lebih luas daripada gambaran tersebut. Doa memohon kesembuhan, membaca Al Quran ketika sakit, serta meminta perlindungan kepada Allah juga termasuk bagian penting dalam pendekatan spiritual seorang Muslim.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa ruqyah syar’iyyah menggunakan doa dan ayat Al Quran sebagai sarana memohon perlindungan serta kesembuhan. Prinsip utamanya ialah keyakinan bahwa kesembuhan berasal dari Allah, sedangkan bacaan yang dilakukan merupakan bentuk ikhtiar.
Ruqyah Syar’iyyah Berbeda dengan Jampi yang Tidak Jelas
Pembahasan mengenai pengobatan ruqyah tidak dapat dilepaskan dari istilah ruqyah syar’iyyah. Istilah ini digunakan untuk membedakan ruqyah berdasarkan ajaran Islam dengan praktik yang memasukkan mantra, permintaan kepada makhluk gaib, benda tertentu, atau ritual yang tidak mempunyai dasar yang jelas.
Dalam ruqyah syar’iyyah, bacaan berasal dari Al Quran, doa, serta zikir yang baik. Seseorang yang melakukan ruqyah juga tidak ditempatkan sebagai pihak yang mempunyai kemampuan menyembuhkan secara mutlak.
Kementerian Agama dalam salah satu penjelasannya membedakan ruqyah syar’iyyah yang bersumber dari Al Quran dan sunnah dengan penggunaan mantra atau jampi yang dapat bertentangan dengan prinsip tauhid.
Karena alasan tersebut, masyarakat perlu berhati hati apabila menemui pengobatan yang menggunakan istilah ruqyah tetapi disertai persyaratan yang tidak masuk akal. Misalnya meminta benda pusaka, melakukan pemujaan, menyediakan sesaji, meminta bantuan makhluk tertentu, atau meyakini seseorang mempunyai kekuatan yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah.
Menurut penulis, ruqyah seharusnya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan membuat pasien merasa bergantung secara berlebihan kepada sosok peruqyah.
Ayat Al Quran Menjadi Bagian Utama dalam Ruqyah
Al Quran mempunyai kedudukan penting dalam tradisi ruqyah. Salah satu ayat yang sering dijadikan landasan pembahasan mengenai penyembuhan terdapat dalam Surah Al Isra ayat 82.
Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah menurunkan dari Al Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang beriman. Kementerian Agama juga mengutip ayat tersebut ketika membahas penggunaan doa dan ayat Al Quran sebagai bagian dari ikhtiar spiritual seorang Muslim.
Dalam pelaksanaan ruqyah, tidak berarti setiap orang harus menggunakan susunan bacaan yang panjang. Beberapa surah dan ayat yang telah dikenal luas dalam ibadah sehari hari sering digunakan sebagai bacaan ruqyah.
Bacaan yang Sering Digunakan dalam Pengobatan Ruqyah
Pengobatan ruqyah pada dasarnya dapat dilakukan melalui bacaan Al Quran serta doa yang baik. Karena itu, seseorang tidak harus mencari rangkaian mantra khusus yang sulit dipahami.
Salah satu bacaan yang paling dikenal adalah Surah Al Fatihah. Selain menjadi pembuka Al Quran dan dibaca dalam setiap rakaat salat, Al Fatihah juga mempunyai kedudukan khusus dalam pembahasan ruqyah di kalangan umat Islam.
Selain Al Fatihah, beberapa bacaan yang lazim digunakan antara lain:
- Ayat Kursi dari Surah Al Baqarah ayat 255.
- Surah Al Ikhlas.
- Surah Al Falaq.
- Surah An Nas.
- Ayat ayat Al Quran yang berisi doa dan permohonan perlindungan kepada Allah.
- Zikir serta doa yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW.
Bacaan tersebut dapat dibaca dengan suara yang terdengar atau perlahan. Hal terpenting ialah seseorang memahami bahwa doa ditujukan kepada Allah serta tidak mencampurnya dengan praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Cara Pengobatan Ruqyah Biasanya Dilakukan
Ruqyah dapat dilakukan kepada diri sendiri maupun dengan bantuan orang lain. Karena itu, seseorang sebenarnya tidak selalu membutuhkan jasa peruqyah untuk membaca Al Quran dan berdoa memohon perlindungan.
Dalam ruqyah mandiri, seseorang dapat berada dalam keadaan tenang kemudian membaca ayat Al Quran, zikir, dan doa. Bacaan dapat dilakukan sambil meletakkan tangan pada bagian tubuh yang terasa sakit sepanjang tidak menimbulkan bahaya.
Tidak diperlukan teriakan, kekerasan, atau tindakan fisik berlebihan agar sebuah ruqyah dianggap berhasil.
Ruqyah Mandiri Bisa Dilakukan di Rumah
Ruqyah mandiri menjadi pilihan yang dapat dilakukan seorang Muslim karena inti dari praktik tersebut adalah berdoa dan membaca Al Quran.
Seseorang dapat memulainya dengan memperbaiki niat, berwudu apabila memungkinkan, kemudian membaca Al Fatihah, Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, serta doa yang dikuasainya.
Suasana juga sebaiknya dibuat tenang agar seseorang dapat berkonsentrasi pada bacaan. Tidak ada kebutuhan untuk sengaja menciptakan keadaan yang menakutkan.
Ruqyah mandiri juga dapat dibarengi dengan ibadah lain seperti salat, zikir, membaca Al Quran secara rutin, dan memperbanyak doa.
Ruqyah dengan Bantuan Peruqyah
Sebagian masyarakat memilih mendatangi peruqyah karena membutuhkan pendampingan. Cara ini tidak menjadi masalah sepanjang peruqyah menggunakan metode yang aman dan tidak melanggar prinsip agama.
Peruqyah sebaiknya menjelaskan apa yang akan dilakukan sebelum sesi dimulai. Pasien juga mempunyai hak untuk menolak tindakan yang membuatnya tidak nyaman atau berisiko menyebabkan cedera.
Lembaga Kesehatan Majelis Ulama Indonesia pada 2025 menyampaikan bahwa pembinaan tenaga kesehatan syariah mencakup profesi seperti bekam, ruqyah, dan herbal. MUI juga menyebut adanya upaya pelatihan, pembinaan, dan standardisasi yang tetap memperhatikan ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan.
Reaksi Saat Ruqyah Tidak Bisa Menjadi Alat Diagnosis
Ada banyak video di media sosial yang memperlihatkan seseorang menangis, berteriak, gemetar, muntah, atau berubah perilaku ketika mengikuti ruqyah. Reaksi seperti itu sering langsung disebut sebagai bukti adanya gangguan makhluk gaib.
Kesimpulan tersebut perlu disikapi secara hati hati.
Reaksi tubuh ketika seseorang berada dalam situasi emosional dapat muncul karena banyak hal. Rasa takut, sugesti, kecemasan, kelelahan, penyakit tertentu, penggunaan obat, maupun gangguan kesehatan jiwa dapat memengaruhi respons seseorang.
Karena itu, menangis atau gemetar saat mendengar bacaan Al Quran tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan penyebab sebuah penyakit.
Hal yang sama berlaku ketika seseorang mendengar suara yang tidak didengar orang lain, melihat sesuatu yang tidak terlihat orang lain, mengalami keyakinan yang sulit dikoreksi, atau menunjukkan perubahan perilaku berat.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa halusinasi dapat muncul pada sejumlah gangguan kesehatan jiwa, termasuk psikosis, skizofrenia, gangguan bipolar, depresi dengan gejala psikotik, serta beberapa keadaan fisik.
Pengobatan Ruqyah dan Pengobatan Medis Tidak Perlu Dipertentangkan
Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian ialah anggapan bahwa seseorang harus memilih antara ruqyah atau dokter. Pilihan semacam itu sebenarnya tidak diperlukan.
Seorang Muslim dapat menjalankan doa dan ruqyah sebagai bagian dari kebutuhan spiritual sambil tetap memeriksakan kondisi kesehatannya kepada dokter, psikolog, atau psikiater sesuai gejala yang muncul.
Apabila seseorang telah mendapatkan obat dari dokter, keputusan menghentikan atau mengubah obat sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan saran pihak yang tidak menangani kondisi medis tersebut.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa ketidakpatuhan terhadap penggunaan obat antipsikotik pada pasien tertentu dapat membuat gejala seperti waham dan halusinasi kembali tidak terkontrol.
Menurut penulis, pendekatan keagamaan dan pelayanan kesehatan dapat berjalan berdampingan selama masing masing ditempatkan sesuai fungsinya dan keselamatan pasien tetap menjadi perhatian utama.
Jangan Langsung Menyebut Gangguan Jin pada Semua Keluhan
Ketika seseorang tiba tiba berubah perilaku, mengalami ketakutan berlebihan, sulit tidur, mendengar suara, atau merasa melihat sesuatu, keluarga terkadang langsung menghubungkannya dengan gangguan gaib.
Padahal, sejumlah gejala tersebut juga ditemukan dalam gangguan kesehatan yang dapat diperiksa secara medis.
Misalnya, Kementerian Kesehatan menjelaskan psikosis sebagai keadaan ketika seseorang kesulitan membedakan sesuatu yang nyata dan tidak nyata. Gejalanya dapat berupa halusinasi, delusi, serta gangguan proses berpikir.
Hal ini tidak berarti keyakinan seseorang mengenai ruqyah harus dihilangkan. Yang dibutuhkan ialah kehati hatian agar kondisi kesehatan yang memerlukan perawatan tidak terlambat ditangani.
Terlebih jika pasien mengalami perilaku agresif, tidak tidur dalam waktu lama, kebingungan berat, kehilangan kesadaran, kejang, keinginan menyakiti diri, atau membahayakan orang lain. Kondisi seperti itu perlu mendapatkan pertolongan kesehatan segera.
Ciri Peruqyah yang Perlu Dipertimbangkan
Meningkatnya popularitas pengobatan ruqyah membuat layanan ruqyah mudah ditemukan melalui media sosial. Namun tidak semua orang yang menggunakan istilah peruqyah mempunyai cara kerja yang sama.
Masyarakat dapat memperhatikan beberapa hal sebelum memilih layanan ruqyah.
Peruqyah yang baik seharusnya menggunakan bacaan yang jelas, tidak mengaku mengetahui perkara gaib secara mutlak, tidak menjanjikan kesembuhan pasti, serta tidak melarang pasien mendapatkan pengobatan dari tenaga kesehatan.
Ia juga tidak seharusnya melakukan kekerasan seperti memukul, mencekik, menginjak tubuh, membakar kulit, atau memberikan zat yang tidak diketahui keamanannya.
Permintaan pembayaran dalam jumlah tidak wajar, permintaan benda tertentu sebagai syarat ritual, serta klaim mampu mengetahui identitas makhluk gaib secara pasti juga layak membuat keluarga lebih waspada.
Peran Keluarga Saat Seseorang Menjalani Ruqyah
Pendampingan keluarga mempunyai posisi penting, terutama ketika orang yang menjalani ruqyah sedang sakit atau mengalami perubahan perilaku.
Keluarga sebaiknya tidak mempermalukan pasien, merekam reaksinya tanpa izin, atau menyebarkan video sesi ruqyah ke media sosial. Seseorang yang sedang mengalami gangguan kesehatan tetap mempunyai hak atas privasi dan perlakuan yang manusiawi.
Apabila sesi dilakukan bersama peruqyah, keluarga dapat memastikan tidak ada tindakan yang membahayakan tubuh pasien. Bila pasien terlihat kesulitan bernapas, kehilangan kesadaran, mengalami kejang berkepanjangan, cedera, atau keadaan darurat lainnya, pertolongan medis harus menjadi prioritas.
Pendampingan juga penting setelah sesi selesai. Kondisi pasien perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari pola tidur, nafsu makan, kemampuan melakukan kegiatan sehari hari hingga perubahan perilaku.
Kapan Pengobatan Ruqyah Perlu Disertai Pemeriksaan Dokter?
Tidak seluruh keluhan dapat dijelaskan hanya melalui pendekatan spiritual. Sakit kepala berulang, nyeri dada, demam tinggi, kejang, pingsan, sesak napas, kehilangan berat badan tanpa sebab yang jelas, gangguan tidur berat, serta perubahan kesadaran membutuhkan pemeriksaan medis.
Begitu pula ketika seseorang mengalami halusinasi, delusi, kebingungan, perubahan perilaku yang sangat besar, atau keinginan menyakiti diri sendiri. Kementerian Kesehatan memasukkan berbagai gejala tersebut dalam pembahasan kondisi kesehatan jiwa yang membutuhkan perhatian dan penanganan profesional.
Ruqyah tetap dapat dilakukan sebagai bentuk doa apabila pasien menghendakinya, tetapi pemeriksaan dokter tidak seharusnya ditinggalkan hanya karena seseorang sedang mengikuti terapi spiritual.
Dengan cara tersebut, pengobatan ruqyah dapat ditempatkan sebagai ikhtiar keagamaan yang dijalankan dengan bacaan Al Quran dan doa, sementara penyakit yang mempunyai kemungkinan penyebab medis tetap memperoleh pemeriksaan serta perawatan dari tenaga kesehatan yang kompeten.
