Sawah Luwu Mengering, Petani Tahan Musim Tanam demi Hindari Kerugian

Berita92 Views

Sawah Luwu Mengering, Petani Tahan Musim Tanam demi Hindari Kerugian Hamparan persawahan di sejumlah wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai kehilangan pasokan air ketika musim kemarau memasuki periode yang semakin kering. Tanah yang sebelumnya berlumpur berubah keras dan retak, sementara tanaman padi muda harus bertahan dengan air yang dipompa dari sumber berjarak cukup jauh.

Kondisi paling nyata terlihat di Dusun Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang. Luas kawasan persawahan di daerah tersebut mencapai sekitar 135 hektare. Sejumlah laporan juga menyebut sedikitnya 70 hektare sawah di Noling telah mengalami kekeringan, disertai puluhan hektare lahan lain di Kecamatan Bajo.

Petani yang telah menanam berusaha menyelamatkan padi menggunakan mesin pompa. Sementara itu, pemilik lahan yang belum menebar benih memilih lebih berhati hati. Memulai penanaman tanpa kepastian air dinilai terlalu berisiko karena biaya benih, pupuk, pengolahan tanah, dan tenaga kerja dapat hilang apabila hujan tidak segera turun.

Tanah Mulai Retak di Antara Tanaman Padi Muda

Kekurangan air di Noling bukan hanya terlihat pada saluran yang menyusut. Retakan mulai muncul di antara rumpun padi yang baru memasuki tahap pertumbuhan. Tanaman muda membutuhkan air cukup agar akar berkembang, unsur hara dapat diserap, dan pembentukan anakan berlangsung dengan baik.

Pantauan lapangan pada 25 Juli 2026 memperlihatkan sebagian sawah mulai mengering setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama lebih dari satu bulan. Petani setempat menyebut tanaman yang baru ditanam mulai menunjukkan tanda kekurangan air.

Pada tahap awal pertumbuhan, kekurangan air dapat membuat tanaman pendek, jumlah anakan berkurang, dan daun menggulung. Padi mungkin tidak langsung mati, tetapi kemampuan menghasilkan bulir dapat turun apabila kekeringan berlangsung terlalu lama.

Keadaan tersebut menempatkan petani pada pilihan sulit. Mereka harus terus mengeluarkan biaya untuk memompa air tanpa mengetahui apakah sumbernya mampu bertahan sampai hujan turun. Bila pompanisasi dihentikan, tanaman yang sudah tumbuh berisiko mengalami kerusakan lebih berat.

Areal Lumika Mencapai Sekitar 135 Hektare

Petani setempat, Jafar Sena, menyebut kawasan persawahan Dusun Lumika mempunyai luas sekitar 135 hektare. Areal itu bertambah secara bertahap melalui program pencetakan sawah yang berlangsung sejak 2010.

Perluasan lahan memberikan peluang produksi yang lebih besar, tetapi tidak disertai pembangunan jaringan pengairan yang memadai. Akibatnya, tambahan sawah tidak selalu dapat ditanami secara optimal ketika hujan berhenti dalam waktu panjang.

Persoalan utama bukan semata mata jumlah lahan, melainkan kemampuan membawa air ke setiap petak. Sawah yang berada lebih dekat dengan sumber masih mempunyai peluang memperoleh air melalui pompa. Lahan di bagian lebih jauh membutuhkan pipa panjang, bahan bakar lebih banyak, dan waktu pengaliran lebih lama.

Ketika debit sumber berkurang, persaingan penggunaan air juga dapat muncul. Petani di bagian hulu lebih dahulu menerima aliran, sedangkan lahan pada ujung jaringan memperoleh volume lebih kecil. Tanpa jadwal pembagian yang disepakati, distribusi air mudah menjadi tidak merata.

Petani yang Belum Menanam Memilih Menunggu

Menunda musim tanam bukan keputusan ringan. Petani harus menerima kenyataan bahwa lahan tidak segera menghasilkan, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Namun, menanam dalam tanah kering tanpa sumber air yang jelas dapat menimbulkan kerugian lebih besar.

Biaya pengolahan satu petak sawah dimulai sejak pembajakan, penyediaan benih, penyemaian, pemindahan bibit, pembelian pupuk, hingga pembayaran tenaga kerja. Seluruh pengeluaran tersebut dilakukan sebelum petani memperoleh hasil panen.

Apabila bibit mati beberapa hari setelah ditanam, petani harus mengulang sebagian proses. Benih baru perlu disiapkan, tanah kembali diolah, dan tenaga kerja kembali dibayar. Tidak semua keluarga mempunyai modal untuk melakukan penanaman kedua dalam musim yang sama.

BMKG telah meminta sektor pertanian menyesuaikan jadwal tanam, menggunakan varietas berumur pendek yang lebih tahan kering, serta mempertimbangkan tanaman lain yang membutuhkan lebih sedikit air. Saran itu diberikan karena musim kemarau 2026 diperkirakan lebih panjang dan lebih kering daripada keadaan normal.

“Menurut penulis, menunda penanaman dalam keadaan tanpa air bukan bentuk menyerah. Keputusan itu dapat menjadi cara petani menjaga modal agar tidak habis sebelum hujan kembali tersedia.”

Tanaman yang Sudah Tumbuh Harus Dipertahankan

Pilihan menunda hanya tersedia bagi lahan yang belum ditanami. Petani yang padinya sudah tumbuh tidak mempunyai banyak ruang untuk menunggu. Tanaman harus segera memperoleh air agar biaya yang telah dikeluarkan tidak hilang.

Petani di Lumika menggunakan mesin untuk mengambil air dari bendungan suplesi. Sumber tersebut berada cukup jauh dari beberapa petak sawah sehingga membutuhkan pipa serta bahan bakar dalam jumlah besar.

Jafar mengaku menggunakan mesin berdaya 3,5 PK dengan kebutuhan sekitar lima sampai tujuh botol bensin per hari. Harga setiap botol disebut berada di kisaran Rp13.000. Dengan perhitungan sederhana, biaya bahan bakar dapat mencapai sekitar Rp65.000 sampai Rp91.000 sehari untuk satu mesin.

Pengeluaran itu belum mencakup biaya sewa mesin, pembelian oli, perawatan, dan pipa. Tidak semua petani memiliki pompa sendiri. Sebagian harus meminjam dari petani lain sehingga penggunaannya bergantian dan waktu pengairan menjadi terbatas.

Pompanisasi Belum Menjangkau Seluruh Petak

Mesin pompa dapat menjadi pertolongan cepat ketika sumber air masih tersedia. Namun, pompanisasi tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Kemampuan mesin dibatasi jarak, ketinggian lahan, kapasitas pipa, bahan bakar, dan debit sumber.

Air yang harus dialirkan terlalu jauh dapat kehilangan tekanan. Kebocoran sambungan juga mengurangi volume yang tiba di sawah. Pada area yang luas, satu mesin membutuhkan waktu panjang untuk membasahi seluruh petak.

Petani mengusulkan bantuan pipa sebagai langkah darurat. Pipa dapat membantu membawa air lebih dekat menuju lahan tanpa banyak kehilangan aliran. Menurut petani, penyelamatan harus dilakukan secepatnya karena tanaman hanya mempunyai waktu terbatas sebelum kerusakan bertambah.

Bantuan pompa juga harus disertai bahan bakar dan pengelolaan penggunaannya. Mesin yang dibagikan tanpa biaya operasi dapat berhenti digunakan ketika kelompok tani tidak mempunyai cukup uang membeli bensin.

Kekeringan Bukan Persoalan Pertama di Noling

Krisis air disebut hampir terjadi setiap tahun di kawasan persawahan Noling. Pada musim tanam 2026, petani bahkan menghadapi kekeringan lebih dari satu kali. Kejadian berulang menunjukkan bahwa persoalan tidak cukup ditangani melalui bantuan sementara.

Petani berharap jaringan permanen dapat menghubungkan Bendung Desa Padang Tuju dengan sawah di Lumika. Bendungan Padang Sappa di Noling juga dinilai mempunyai peluang untuk dimanfaatkan sebagai sumber pengairan tambahan.

Pembangunan saluran tetap membutuhkan kajian mengenai debit, ketinggian, jalur lahan, serta pembagian air. Saluran juga harus dipelihara setelah selesai dibangun. Sedimentasi, sampah, rerumputan, dan kerusakan pintu air dapat kembali mengurangi aliran bila pemeliharaan terhenti.

Kebutuhan pengairan di Noling bertambah seiring perluasan lahan. Saluran yang dirancang untuk luas sawah lama belum tentu mampu melayani seluruh petak baru. Karena itu, data luas tanam dan kebutuhan air perlu diperbarui sebelum pembangunan dilakukan.

Persawahan di Bajo Mengalami Persoalan Serupa

Kekeringan tidak hanya dilaporkan dari Noling. Puluhan hektare sawah di Kecamatan Bajo juga mengalami kekurangan air. Wilayah Balla dan Desa Tallang Bulawang termasuk daerah yang disebut menghadapi ancaman terhadap tanaman padi akibat berkurangnya pasokan pengairan.

Keadaan di beberapa kecamatan membuat luas lahan yang terancam melampaui seratus hektare. Setiap lokasi dapat mempunyai penyebab teknis yang berbeda, mulai dari hujan yang berhenti, debit sungai turun, jaringan rusak, hingga saluran yang belum menjangkau petak sawah.

Penanganannya juga tidak dapat memakai satu jenis bantuan. Daerah yang masih mempunyai sungai membutuhkan pompa dan pipa. Wilayah dengan jaringan rusak membutuhkan perbaikan pintu serta saluran. Sawah tadah hujan mungkin harus menyesuaikan waktu penanaman sampai hujan tersedia.

Pemetaan per desa diperlukan agar bantuan ditempatkan berdasarkan kebutuhan nyata. Pemerintah perlu mengetahui lahan yang belum ditanam, tanaman yang masih dapat diselamatkan, sumber air terdekat, serta jumlah pompa yang bisa digunakan.

Target Tiga Kali Tanam Menghadapi Ujian Berat

Pemerintah Kabupaten Luwu sebelumnya mencanangkan Indeks Pertanaman 300 atau IP 300. Program tersebut diarahkan agar sawah dapat ditanami dan dipanen hingga tiga kali dalam satu tahun.

Pencanangan dan penanaman perdana dilaksanakan di Kelurahan Padangsappa, Kecamatan Ponrang, pada 21 Mei 2026. Pemerintah daerah menempatkan percepatan tanam dan optimalisasi lahan sebagai bagian dari usaha meningkatkan produksi padi.

Target tiga kali tanam membutuhkan pasokan air yang lebih stabil daripada pola satu atau dua musim. Jarak antarperiode menjadi lebih pendek sehingga waktu untuk memperbaiki saluran, memulihkan tanah, dan menunggu hujan juga berkurang.

Petani Noling menilai dua kali panen saja masih sulit ketika pengairan belum tersedia secara pasti. Mereka juga mengkhawatirkan penanaman yang terlalu dipaksakan tanpa pengelolaan tanah dan air yang baik.

IP 300 tidak cukup dijalankan melalui pembagian benih atau penetapan kalender. Program tersebut membutuhkan irigasi, varietas sesuai, pupuk, pengendalian hama, alat panen, dan pasar yang mampu menyerap hasil.

Kemarau 2026 Lebih Kering dari Keadaan Normal

Kondisi persawahan Luwu berlangsung ketika Indonesia menghadapi musim kemarau yang lebih kering. BMKG memprediksi 482 Zona Musim atau sekitar 56,18 persen luas daratan berada dalam kategori hujan di bawah normal.

Puncak kemarau diperkirakan paling banyak terjadi pada Agustus 2026, mencakup 369 Zona Musim. Durasi musim kering di banyak wilayah juga diprediksi lebih panjang daripada keadaan rata rata.

Pada Dasarian I Juli 2026, BMKG mencatat Sulawesi Selatan termasuk wilayah berstatus waspada kekeringan meteorologis. Sebanyak 72,38 persen wilayah Indonesia menerima curah hujan rendah pada periode tersebut, sedangkan 60,5 persen Zona Musim telah memasuki kemarau.

El Nino yang aktif memperkuat udara kering selama periode kemarau. Kondisi ini membuat hujan lokal tetap mungkin turun, tetapi sebaran dan waktunya sulit dijadikan satu satunya dasar penentuan musim tanam.

Perbaikan Irigasi Mulai Berjalan di Bajo Barat

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memulai rehabilitasi Daerah Irigasi Lengkong Pini Paket 4 di Desa Sampeang, Kecamatan Bajo Barat, pada 4 Juli 2026.

Pekerjaan sepanjang 11.881 meter itu menggunakan anggaran sekitar Rp17,89 miliar. Proyek mencakup rehabilitasi dua bendung dan sebelas bangunan irigasi. Kapasitas layanan ditargetkan naik dari sekitar 52,8 persen menjadi 82,8 persen atau mampu mengairi sekitar 828 hektare sawah.

Masih terdapat sekitar 300 hektare sawah di Makawa yang belum mendapatkan layanan. Apabila saluran tambahan dibangun, jangkauan irigasi diperkirakan dapat meningkat hingga sekitar 1.400 hektare.

Pembangunan ini menjadi langkah penting, tetapi manfaatnya tidak langsung dirasakan seluruh sawah yang sedang mengering. Proses konstruksi membutuhkan waktu, sedangkan tanaman padi hanya mampu bertahan dalam periode terbatas tanpa air.

Penundaan Tanam Harus Diikuti Kalender Baru

Ketika petani menunda penanaman, jadwal berikutnya perlu disusun dengan lebih cermat. Penanaman tidak cukup dimulai hanya karena hujan turun satu atau dua kali. Ketersediaan air harus diperkirakan sampai fase pembentukan bulir.

Kelompok tani dapat menyusun giliran berdasarkan lokasi lahan dan umur tanaman. Sawah yang padinya telah tumbuh perlu memperoleh prioritas, sedangkan lahan yang belum ditanami menunggu sampai pasokan lebih stabil.

Benih berumur lebih pendek dapat dipertimbangkan untuk mengejar musim yang tersisa. Namun, varietas tetap harus sesuai dengan jenis tanah, kebiasaan petani, serta permintaan pasar.

Tanaman lain seperti jagung atau kacang dapat menjadi pilihan pada lahan tertentu, tetapi pergantian komoditas juga membutuhkan benih, pembeli, dan pengetahuan budidaya. Petani tidak dapat serta merta berpindah tanaman tanpa kepastian hasilnya akan terserap.

Kerugian Tidak Hanya Berasal dari Padi yang Mati

Kekeringan menambah biaya sebelum hasil panen diperoleh. Petani harus membeli bensin, menyewa pompa, memperpanjang pipa, dan meluangkan lebih banyak waktu untuk menjaga aliran air.

Ketika panen turun, pendapatan keluarga ikut berkurang. Petani tetap harus membayar utang sarana produksi, sewa lahan, serta pembagian hasil kepada pemilik sawah apabila mereka bekerja sebagai penggarap.

Jafar memperkirakan hasil panen di Lumika dapat tinggal sekitar 40 persen dari kemampuan normal apabila kekeringan berlanjut. Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang bertahan belum tentu menghasilkan gabah dalam jumlah memadai.

Pendapatan buruh tani juga berkurang ketika luas tanam menyusut. Pekerjaan menanam, menyiangi, memupuk, dan memanen menjadi lebih sedikit. Penggilingan serta pedagang gabah di tingkat desa ikut menerima pasokan yang menurun.

“Air irigasi bukan hanya kebutuhan tanaman. Setiap alirannya menghidupkan pekerjaan petani, buruh, pengangkut, penggilingan, hingga pedagang kecil di desa.”

Bantuan Darurat Perlu Bergerak Sebelum Tanaman Rusak

Petani membutuhkan penanganan yang berbeda antara lahan yang telah ditanami dan sawah yang masih kosong. Untuk tanaman yang sudah tumbuh, kebutuhan terdekat berupa pompa, pipa, bahan bakar, serta pengaturan air.

Lahan yang belum ditanami membutuhkan informasi cuaca, jadwal baru, dan kepastian sumber pengairan. Pemerintah juga perlu memastikan benih yang telah disiapkan tidak rusak selama masa tunggu.

Pemeriksaan saluran harus dilakukan dari hulu sampai ke petak sawah. Aliran kecil tidak selalu disebabkan debit sumber yang rendah. Kebocoran, tumpukan sedimen, pintu yang rusak, dan penggunaan tanpa jadwal dapat mengurangi air sebelum mencapai lahan.

Petani Luwu kini menunggu keputusan yang dapat bekerja dalam dua waktu sekaligus. Tanaman yang sudah berada di sawah membutuhkan pertolongan dalam hitungan hari, sedangkan musim tanam berikutnya memerlukan jaringan air yang mampu bertahan ketika hujan kembali berhenti.