Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan Islam. Perpindahan tersebut bukan perjalanan biasa dari satu kota menuju kota lain. Rasulullah SAW meninggalkan Makkah setelah tekanan terhadap kaum Muslim semakin berat, lalu menuju Yatsrib, kota yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Di tempat baru itulah komunitas Muslim memperoleh ruang lebih luas untuk menjalankan ajaran agama dan membangun kehidupan bersama.
The Metropolitan Museum of Art mencatat hijrah berlangsung pada 622 M dan kemudian ditempatkan sebagai titik awal era Hijriah. Oxford Reference juga menjelaskan hijrah sebagai perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Yatsrib pada 622 M. Kalender Hijriah yang menggunakan peristiwa ini sebagai titik acuannya kemudian dilembagakan pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Perjalanan tersebut berlangsung melalui perencanaan yang hati hati. Nabi Muhammad SAW ditemani Abu Bakar Ash Shiddiq RA, bersembunyi terlebih dahulu ketika pengejaran kaum Quraisy berlangsung, kemudian menempuh jalur menuju Madinah dengan bantuan orang orang yang mempunyai tugas tertentu. Kisah keberadaan Nabi bersama seorang sahabat di dalam gua bahkan disebut langsung dalam Al Quran Surah At Taubah ayat 40.
Tekanan di Makkah Semakin Berat terhadap Kaum Muslim
Perjalanan menuju Madinah tidak dapat dilepaskan dari keadaan umat Islam di Makkah pada tahun tahun sebelumnya. Nabi Muhammad SAW mulai menerima wahyu sekitar 610 M dan menyampaikan ajaran tauhid di tengah masyarakat Makkah yang ketika itu mempunyai kehidupan sosial serta keagamaan yang sangat terkait dengan Ka’bah dan tradisi masyarakat Quraisy.
Ajaran yang dibawa Rasulullah SAW mendapat penolakan dari sejumlah pemimpin Quraisy. The Metropolitan Museum of Art menjelaskan pesan monoteisme yang disampaikan Nabi tidak diterima oleh sebagian kalangan berpengaruh di Makkah. Posisi Nabi sempat mendapatkan perlindungan dari keluarga, termasuk pamannya Abu Thalib. Situasinya kemudian semakin sulit setelah orang orang yang selama ini memberikan perlindungan meninggal dunia.
Para pengikut Nabi juga menghadapi tekanan. Dalam perjalanan awal Islam, sebagian Muslim bahkan telah mencari perlindungan di wilayah Aksum beberapa tahun sebelum hijrah ke Madinah. Penelitian sejarah yang diterbitkan Cambridge University Press mencatat tradisi Islam mengenai perpindahan sebagian pengikut Nabi menuju kerajaan Kristen Aksum sebelum hijrah 622 M.
Pada tahap berikutnya, Yatsrib muncul sebagai tempat yang memungkinkan komunitas Muslim membangun kehidupan dengan keadaan yang berbeda.
Pertemuan dengan Penduduk Yatsrib Membuka Jalan Menuju Madinah
Sebelum hijrah berlangsung, Nabi Muhammad SAW telah bertemu dengan sejumlah penduduk Yatsrib. Pertemuan tersebut berkembang menjadi hubungan yang semakin kuat dan kemudian melahirkan Baiat Aqabah.
Riwayat mengenai proses tersebut menyebut sebuah kelompok kecil penduduk Yatsrib menerima Islam sebelum jumlahnya berkembang. Pada Baiat Aqabah pertama terdapat 12 orang yang memberikan janji kepada Nabi. Setahun kemudian, kelompok yang datang dari Yatsrib menjadi jauh lebih besar dan Baiat Aqabah kedua membuka jalan bagi perpindahan Rasulullah SAW ke kota tersebut.
The Cambridge History of War juga mencatat kesepakatan awal antara Nabi Muhammad SAW dan sejumlah orang dari Madinah menjadi salah satu tahap yang mempersiapkan hijrah.
Mus’ab bin Umair RA kemudian memiliki peranan penting dalam memperkenalkan Islam kepada penduduk Yatsrib sebelum kedatangan Nabi. Dalam riwayat yang dibahas Yaqeen Institute, kelompok yang mengikuti Baiat Aqabah pertama meminta seseorang dikirim untuk mengajarkan Islam, lalu Nabi mengutus Mus’ab.
Hubungan yang terbentuk memberikan jaminan sosial yang sebelumnya sulit diperoleh kaum Muslim di Makkah. Penduduk Muslim Yatsrib kemudian dikenal sebagai Ansar, sedangkan kaum Muslim yang berpindah dari Makkah dikenal sebagai Muhajirin.
Kaum Muslim Berangkat Lebih Dahulu Meninggalkan Makkah
Setelah jalur menuju Yatsrib terbuka, kaum Muslim mulai berpindah secara bertahap. Perjalanan tidak dilakukan sebagai rombongan besar karena keadaan keamanan masih sangat sulit.
The Metropolitan Museum of Art mencatat emigrasi akhirnya menjadi pilihan bagi Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya ketika keadaan di Makkah semakin berat. Pada 622 M, mereka bergerak menuju Madinah, kota oasis tempat mereka mendapatkan kesempatan menjalankan agama dengan lebih bebas.
Madinah berada di utara Makkah. Perjalanan darat melintasi wilayah Hijaz membutuhkan ketahanan fisik, persediaan serta kemampuan mengenali medan. Ancaman pengejaran menambah kesulitan perjalanan.
Rasulullah SAW tidak langsung berangkat bersama kelompok besar. Keberangkatan dilakukan dengan sangat hati hati setelah sebagian besar pengikutnya terlebih dahulu bergerak menuju Yatsrib.
Menurut penulis, bagian ini memperlihatkan bahwa hijrah dilakukan melalui persiapan yang terukur. Keyakinan kepada Allah berjalan bersama usaha manusia untuk mengurangi risiko, menentukan perjalanan dan menggunakan bantuan orang yang memahami situasi lapangan.
Rencana Quraisy Membuat Keberangkatan Nabi Dilakukan secara Rahasia
Keberadaan Nabi Muhammad SAW menjadi perhatian besar kaum Quraisy ketika banyak pengikut Islam sudah berpindah menuju Yatsrib. Kekhawatiran bahwa komunitas Muslim dapat berkembang di kota lain membuat situasi semakin berbahaya.
Oxford Reference menggambarkan hijrah sebagai keberangkatan rahasia Nabi Muhammad SAW dari Makkah pada 622 M bersama Abu Bakar untuk tinggal di tengah masyarakat Yatsrib.
Dalam riwayat sirah yang banyak dikenal umat Islam, Ali bin Abi Thalib RA berada di tempat tidur Nabi ketika Rasulullah SAW meninggalkan rumah. Yaqeen Institute juga mencatat Ali ditinggalkan sebagai pengalih perhatian ketika Nabi dan Abu Bakar menggunakan jalur yang tidak diperkirakan oleh pengejar.
Langkah berikutnya justru tidak langsung bergerak ke utara menuju Madinah. Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar bergerak ke arah berbeda terlebih dahulu untuk menghindari jalur yang kemungkinan diawasi.
Gua Tsur Menjadi Tempat Persembunyian Nabi dan Abu Bakar
Salah satu bagian paling dikenal dalam perjalanan hijrah terjadi di sebuah gua di kawasan Jabal Tsur. Dalam tradisi sirah, Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar RA tinggal di sana selama tiga hari ketika pencarian kaum Quraisy sedang berlangsung.
Lokasi Tsur berada di sebelah selatan Makkah, berlawanan dengan arah utama menuju Madinah yang berada di utara. Pemilihan tersebut menyulitkan pengejar yang memperkirakan Nabi akan langsung bergerak ke arah Yatsrib.
Peristiwa di dalam gua memperoleh tempat khusus karena Al Quran menyebut keadaan ketika Nabi berada bersama seorang sahabat. Surah At Taubah ayat 40 menggambarkan Nabi menenangkan sahabatnya ketika keduanya berada di dalam gua dengan perkataan bahwa Allah bersama mereka. Terjemahan resmi Al Quran Kementerian Agama Republik Indonesia memuat bagian tersebut dalam ayat yang sama.
Al Quran tidak menyebut seluruh rincian perjalanan tersebut. Informasi mengenai nama gua, lama tinggal serta orang orang yang membantu selama persembunyian berasal dari tradisi sirah dan riwayat sejarah Islam.
Keluarga Abu Bakar Memegang Peranan Selama Persembunyian
Keberhasilan perjalanan tidak hanya melibatkan Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar. Beberapa orang mempunyai tugas berbeda selama masa persembunyian.
Asma binti Abu Bakar RA dikenal membantu membawa kebutuhan makanan. Abdullah bin Abu Bakar RA bertugas mendapatkan informasi dari Makkah kemudian menyampaikannya kepada Nabi dan ayahnya. Amir bin Fuhairah juga terlibat dengan menggembalakan ternak serta membantu kebutuhan selama mereka berada di kawasan tersebut.
Pembagian tugas membuat informasi mengenai perkembangan pencarian Quraisy dapat diketahui tanpa Nabi harus kembali mendekati pusat Makkah.
Setelah keadaan memungkinkan, perjalanan menuju Madinah dilanjutkan. Rombongan memilih jalur yang tidak sama dengan rute utama kafilah agar kemungkinan bertemu pengejar dapat diperkecil.
Perjalanan ini memperlihatkan keterlibatan banyak orang dengan tugas yang berbeda, mulai dari menyediakan kebutuhan hingga mendapatkan informasi.
Perjalanan Menuju Utara Dilakukan Melalui Jalur yang Tidak Biasa
Setelah keluar dari kawasan Tsur, rombongan mulai bergerak menuju Madinah. Perjalanan melewati wilayah barat Semenanjung Arab dan tidak selalu mengikuti jalur utama yang biasa digunakan kafilah.
Riwayat perjalanan menyebut penggunaan seorang penunjuk jalan yang mengenal medan. Keputusan menggunakan orang yang memahami rute menunjukkan pentingnya pengetahuan geografis pada perjalanan sepanjang ratusan kilometer tersebut. Yaqeen Institute mencatat Nabi dan Abu Bakar menggunakan rute alternatif serta menerima bantuan seorang pemandu dalam usaha menghindari pengejar.
Jarak lurus antara Makkah dan Madinah memang hanya memberikan gambaran geografis. Perjalanan menggunakan unta harus mengikuti medan, lembah, jalur yang menyediakan akses air serta tempat tertentu yang memungkinkan rombongan berhenti.
Wilayah Hijaz memiliki bentang yang tidak mudah. Panas, perjalanan panjang dan ancaman kelompok pengejar membuat setiap keputusan rute mempunyai arti besar terhadap keselamatan rombongan.
Quba Menjadi Tempat Singgah Sebelum Memasuki Pusat Madinah
Setelah perjalanan panjang, Nabi Muhammad SAW mencapai kawasan Quba di bagian luar Yatsrib. Kedatangannya telah lama ditunggu oleh kaum Muslim setempat yang mendapatkan informasi bahwa Rasulullah sedang menuju kota mereka.
Riwayat yang dibahas Yaqeen Institute menyebut Nabi tinggal sementara di Quba sebelum bergerak lebih jauh memasuki Madinah. Di kawasan tersebut pula pembangunan Masjid Quba dimulai dengan keterlibatan langsung Rasulullah SAW dan kaum Muslim.
Quba kemudian memperoleh posisi penting dalam sejarah Islam karena berhubungan dengan fase pertama kedatangan Nabi setelah hijrah.
Keberadaan masjid memperlihatkan salah satu hal yang segera mendapatkan perhatian setelah perjalanan panjang berakhir. Ruang ibadah sekaligus menjadi titik pertemuan masyarakat Muslim yang baru saja menerima kedatangan kelompok Muhajirin dari Makkah.
Rasulullah SAW kemudian melanjutkan perjalanan dari Quba menuju bagian utama Yatsrib.
Masyarakat Madinah Menyambut Kedatangan Rasulullah SAW
Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib membawa perubahan besar bagi kota tersebut. Masyarakat Muslim yang sebelumnya menunggu akhirnya dapat bertemu langsung dengan Rasulullah.
Nama Madinah kemudian semakin melekat pada kota tersebut. Oxford Reference mencatat hijrah pada 622 M membawa Nabi untuk hidup bersama masyarakat Yatsrib yang kemudian dikenal sebagai Medina.
Dalam periode awal, Nabi juga tinggal di lingkungan masyarakat setempat. Abu Ayyub Al Ansari RA dikenal sebagai sahabat yang rumahnya menjadi tempat tinggal Rasulullah ketika memasuki Madinah. Riwayat mengenai Abu Ayyub juga berkaitan dengan kelompok penduduk Madinah yang sebelumnya telah memberikan baiat kepada Nabi sebelum hijrah.
Dari sinilah hubungan antara Muhajirin dan Ansar semakin berkembang. Orang orang yang meninggalkan Makkah harus memulai kehidupan baru setelah meninggalkan rumah, harta ataupun kegiatan ekonomi yang sebelumnya mereka miliki.
Masyarakat Madinah kemudian menjadi pusat kegiatan umat Islam selama periode berikutnya.
Masjid Nabawi Dibangun sebagai Pusat Kehidupan Muslim
Salah satu langkah penting setelah kedatangan Nabi adalah pembangunan masjid di Madinah. Bangunan tersebut kelak dikenal sebagai Masjid Nabawi.
The Metropolitan Museum of Art mencatat rumah Nabi dan kawasan masjid di Madinah berkembang menjadi pusat komunitas Muslim. Bentuk awalnya menggunakan halaman serta ruang berkolom dan kemudian menjadi salah satu model penting dalam perkembangan arsitektur masjid.
Fungsinya pada masa Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah. Komunitas Muslim membutuhkan tempat pertemuan setelah kedatangan kaum Muhajirin dan berkembangnya masyarakat baru.
Pembangunan tersebut berlangsung ketika masyarakat Madinah terdiri atas berbagai kelompok. Terdapat suku Aus dan Khazraj serta komunitas Yahudi dengan struktur sosial masing masing. Karena itu, kepemimpinan Nabi juga berhadapan dengan kebutuhan membangun hubungan antarkelompok dalam satu kota.
Menurut penulis, fase Madinah memperlihatkan perubahan posisi umat Islam dari kelompok yang menghadapi tekanan berat di Makkah menjadi masyarakat yang mempunyai ruang untuk mengatur kehidupan bersama, menjalankan ibadah dan membangun lembaga sosial.
Piagam Madinah Mengatur Hubungan Berbagai Kelompok
Salah satu perkembangan penting setelah hijrah adalah terbentuknya kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah atau Mithaq al Madinah.
Dokumen tersebut dikaitkan dengan pengaturan hubungan antara kelompok Muslim dari Makkah, penduduk Muslim Madinah serta kelompok lain yang hidup di kota tersebut. Para sejarawan membahas Piagam Madinah sebagai salah satu sumber penting untuk memahami pembentukan komunitas pada periode awal Islam.
Sumber sejarah mencatat dokumen tersebut memuat aturan mengenai hubungan, tanggung jawab bersama serta penyelesaian perselisihan di antara kelompok yang berada di Madinah. Teksnya dikenal melalui sumber sumber Muslim awal, terutama tradisi sirah yang kemudian dicatat oleh Ibn Ishaq dan diteruskan melalui Ibn Hisham.
Keberadaan aturan bersama menjadi semakin diperlukan karena Madinah tidak dihuni oleh satu kelompok saja. Nabi Muhammad SAW bukan hanya menghadapi kebutuhan kaum Muhajirin, tetapi juga hubungan antara berbagai kabilah yang sebelumnya telah memiliki sejarah persaingan panjang.
Hijrah Menjadi Titik Awal Penanggalan Hijriah
Peristiwa 622 M kemudian dipilih sebagai titik acuan kalender Islam. Karena itu, istilah sebelum hijrah dan sesudah hijrah sering digunakan ketika membicarakan kehidupan Rasulullah SAW.
The Metropolitan Museum of Art menjelaskan tahun pertama kalender Hijriah merujuk pada 622 M, yaitu tahun perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah.
Namun sistem penanggalannya tidak langsung ditetapkan pada hari Nabi memasuki Madinah. Kajian Cambridge mengenai kalender Islam menyebut pengenalan kalender secara formal sering dikaitkan dengan Khalifah Umar bin Khattab sekitar 639 M, walaupun terdapat bukti penggunaan penanggalan sebelumnya.
Kalender Islam menggunakan perhitungan lunar. Satu tahun terdiri atas 12 bulan dengan panjang sekitar 354 atau 355 hari, sehingga perayaan dan tanggal Islam bergerak terhadap kalender matahari.
Pemilihan hijrah sebagai titik hitung memperlihatkan posisi istimewa peristiwa tersebut dalam sejarah umat Islam, bukan sekadar karena perpindahan geografis Nabi, tetapi karena 622 M menjadi batas antara periode Makkah dan periode Madinah.
Wahyu Periode Madinah Mengikuti Tahap Baru Kehidupan Umat Islam
Hijrah juga menjadi salah satu pembatas yang digunakan para ahli ketika mengelompokkan ayat Al Quran. Istilah Makkiyah dan Madaniyah berkaitan dengan periode sebelum serta sesudah hijrah.
The Metropolitan Museum of Art mencatat wahyu diterima Nabi selama bertahun tahun, pertama di Makkah lalu berlanjut di Madinah setelah hijrah 622 M.
Perubahan keadaan masyarakat membuat persoalan yang dihadapi umat Islam semakin luas. Di Makkah, ajaran banyak berhadapan dengan persoalan tauhid, keimanan dan penolakan masyarakat terhadap risalah Nabi. Di Madinah, komunitas Muslim telah tumbuh sehingga pembahasan mengenai hubungan sosial, aturan masyarakat, keluarga serta berbagai urusan bersama semakin sering muncul.
Periode Madinah berlangsung sampai wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 632 M. Selama sekitar satu dekade itu, Madinah menjadi pusat komunitas Islam, sementara hubungan dengan Quraisy Makkah terus mengalami berbagai tahap, termasuk peperangan, perjanjian dan akhirnya pembukaan Makkah.
Hubungan dengan Makkah Tidak Langsung Berakhir Setelah Hijrah
Keberhasilan mencapai Madinah tidak berarti persoalan antara kaum Muslim dan Quraisy langsung selesai. The Metropolitan Museum of Art mencatat konflik dengan Quraisy terus berlangsung setelah hijrah sebelum akhirnya Makkah berada di bawah kepemimpinan Nabi beberapa tahun kemudian.
Dalam tahun tahun setelah hijrah terjadi beberapa peristiwa besar, termasuk Perang Badar pada 624 M, Perang Uhud pada 625 M, Perang Khandaq serta Perjanjian Hudaibiyah. Hubungan tersebut kemudian memasuki tahap berbeda hingga pembukaan Makkah pada 630 M.
Hijrah karena itu menjadi pintu masuk menuju periode kehidupan Rasulullah SAW yang sangat berbeda dibandingkan masa awal dakwah di Makkah.
Madinah menjadi tempat Nabi membangun masyarakat, menerima berbagai wahyu, mengatur hubungan dengan kabilah lain dan mendidik generasi sahabat yang kemudian memegang peranan besar dalam perkembangan Islam.
Dari Makkah Menuju Madinah, Perjalanan yang Terus Dikenang Umat Islam
Lebih dari empat belas abad setelah perjalanan berlangsung, rute Makkah menuju Madinah tetap menjadi bagian yang sangat dikenal dalam sejarah Islam. Makkah mengingatkan umat pada kelahiran dan periode awal dakwah Rasulullah SAW, sementara Madinah berkaitan erat dengan pembentukan komunitas Muslim setelah hijrah.
Al Quran sendiri mengabadikan salah satu saat paling genting perjalanan tersebut dalam Surah At Taubah ayat 40. Ayat itu menyebut Nabi sebagai salah satu dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua dan Nabi menenangkan sahabatnya dengan keyakinan akan pertolongan Allah.
Sementara itu, sumber sejarah modern dari Oxford, Cambridge dan The Metropolitan Museum of Art sama sama menempatkan 622 M sebagai tahun hijrah dari Makkah menuju Yatsrib atau Madinah dan sebagai titik awal era Hijriah.
Perjalanan tersebut melewati berbagai tahap, mulai dari hubungan dengan penduduk Yatsrib, Baiat Aqabah, perpindahan kaum Muslim, keberangkatan Nabi bersama Abu Bakar, persembunyian di kawasan Tsur, perjalanan melalui jalur yang lebih aman, singgah di Quba hingga akhirnya memasuki Madinah.
Di kota itulah Rasulullah SAW melanjutkan dakwah selama sekitar sepuluh tahun berikutnya. Madinah menjadi pusat kehidupan komunitas Muslim hingga Nabi Muhammad SAW wafat pada 632 M, sementara peristiwa hijrah 622 M tetap digunakan sebagai titik acuan utama dalam penanggalan Islam sampai sekarang.
