Turunnya Perintah Sholat, Kisah Isra Mikraj dan Kewajiban Lima Waktu

Turunnya perintah sholat lima waktu menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Perintah tersebut diterima Rasulullah SAW dalam rangkaian Isra Mikraj, sebuah perjalanan luar biasa yang berlangsung dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menembus lapisan langit.

Berbeda dari sejumlah kewajiban lain yang disampaikan melalui wahyu kepada Rasulullah SAW, perintah sholat lima waktu diterima dalam perjalanan khusus yang memperlihatkan kedudukan penting ibadah tersebut. Sholat kemudian menjadi kewajiban harian yang tidak hanya dilakukan pada waktu tertentu, tetapi juga menyertai kehidupan seorang muslim sejak menjelang matahari terbit hingga malam.

Riwayat sahih menjelaskan bahwa jumlah sholat pada awalnya ditetapkan sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Setelah Rasulullah SAW beberapa kali memohon keringanan, jumlah pelaksanaannya menjadi lima waktu. Meski hanya dikerjakan lima kali, nilai pahalanya tetap disamakan dengan 50 kali sholat.

Sholat Sudah Dikenal Sebelum Peristiwa Isra Mikraj

Pembahasan mengenai turunnya perintah sholat perlu dimulai dengan satu penjelasan penting. Isra Mikraj bukanlah awal pertama Rasulullah SAW mengenal ibadah sholat. Nabi Muhammad SAW dan para pengikut awal Islam telah melakukan sholat sebelum terjadinya perjalanan tersebut.

Sejumlah ulama menjelaskan bahwa sebelum Isra Mikraj, Rasulullah SAW mengerjakan sholat dua rakaat pada awal pagi dan dua rakaat pada akhir siang. Malaikat Jibril juga disebut mengajarkan wudu dan sholat kepada Nabi Muhammad SAW sejak periode awal turunnya wahyu.

Dengan demikian, peristiwa Isra Mikraj lebih tepat dipahami sebagai awal diwajibkannya sholat fardu lima waktu dalam sehari semalam. Bentuk, waktu, dan ketentuan pelaksanaannya kemudian berkembang sesuai petunjuk yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat.

Sholat pada masa awal dakwah menjadi bagian dari pembinaan keimanan kaum muslimin. Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakannya di tengah tekanan masyarakat Makkah yang masih menolak ajaran tauhid. Ibadah tersebut meneguhkan hubungan manusia dengan Allah ketika kedudukan umat Islam secara sosial masih sangat lemah.

Isra Membawa Rasulullah Menuju Masjidil Aqsa

Isra merupakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa. Peristiwa ini disebut secara jelas dalam Surah Al Isra ayat 1. Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah diberkahi sekelilingnya.

Al Quran juga menjelaskan tujuan perjalanan tersebut, yakni memperlihatkan sebagian tanda kebesaran Allah kepada Rasulullah SAW. Penyebutan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba menunjukkan bahwa perjalanan tersebut diberikan kepada beliau sebagai manusia sekaligus utusan Allah.

Dalam riwayat hadis, Rasulullah SAW melakukan perjalanan menggunakan Buraq bersama Malaikat Jibril. Buraq digambarkan sebagai kendaraan berwarna putih dengan ukuran lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal. Kecepatannya melampaui kemampuan perjalanan kendaraan masyarakat Arab pada masa itu.

Masjidil Aqsa memiliki kedudukan penting dalam sejarah kenabian. Wilayah tersebut berkaitan dengan perjalanan banyak nabi sebelum Muhammad SAW. Pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi memperlihatkan hubungan antara risalah Islam dan ajaran tauhid yang telah dibawa para utusan Allah sebelumnya.

Rasulullah Menjadi Imam bagi Para Nabi

Riwayat perjalanan Isra menyebut Rasulullah SAW melaksanakan sholat bersama para nabi di Masjidil Aqsa. Nabi Muhammad SAW tampil sebagai imam, sedangkan para nabi terdahulu berada di belakang beliau.

Peristiwa tersebut menunjukkan kedudukan Rasulullah SAW sebagai penutup para nabi dan pembawa risalah terakhir. Ajaran yang disampaikan beliau tidak berdiri terpisah dari risalah sebelumnya. Seluruh nabi membawa seruan agar manusia beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Pelaksanaan sholat di Masjidil Aqsa juga menjadi penghubung antara perjalanan mendatar dari Makkah dan perjalanan menuju langit. Setelah menyelesaikan Isra, Rasulullah SAW melanjutkan Mikraj bersama Malaikat Jibril.

Masjidil Aqsa kemudian tetap memiliki kedudukan terhormat dalam ajaran Islam. Masjid tersebut pernah menjadi arah sholat kaum muslimin sebelum kiblat dipindahkan menuju Ka’bah di Makkah. Kedudukannya sebagai tempat persinggahan Isra membuat Masjidil Aqsa tidak dapat dipisahkan dari pembahasan turunnya kewajiban sholat lima waktu.

Mikraj Membawa Nabi Menembus Lapisan Langit

Mikraj merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju langit. Dalam sejumlah hadis sahih, Malaikat Jibril mendampingi Rasulullah SAW melewati pintu langit dan bertemu dengan beberapa nabi.

Rasulullah SAW bertemu Nabi Adam, Nabi Idris, Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim. Para nabi tersebut menyambut beliau sebagai saudara atau keturunan yang saleh sekaligus nabi yang saleh. Rangkaian pertemuan itu tercatat dalam riwayat panjang mengenai Isra Mikraj.

Perjalanan berlanjut hingga Sidratul Muntaha, tempat yang tidak dapat dijangkau manusia melalui kemampuan biasa. Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai tanda kebesaran Allah yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Isra Mikraj berada dalam wilayah mukjizat. Peristiwa tersebut tidak dapat diukur hanya melalui kebiasaan perjalanan manusia. Umat Islam mempercayainya berdasarkan keterangan Al Quran dan hadis sahih, tanpa harus memaksakan seluruh perinciannya agar sesuai dengan batas kemampuan manusia.

“Perintah sholat dibawa pulang Rasulullah SAW dari perjalanan yang istimewa, tetapi pelaksanaannya ditempatkan di tengah kegiatan manusia setiap hari.”

Perintah Awal Berjumlah 50 Sholat

Pada puncak perjalanan Mikraj, Allah mewajibkan 50 sholat kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya dalam sehari semalam. Rasulullah SAW kemudian turun membawa ketetapan tersebut.

Ketika bertemu Nabi Musa AS, Rasulullah SAW ditanya mengenai perintah yang diterimanya. Rasulullah menjawab bahwa umatnya diwajibkan mengerjakan 50 sholat setiap hari dan malam.

Nabi Musa AS menyarankan Rasulullah SAW kembali memohon keringanan. Saran tersebut diberikan berdasarkan pengalaman Nabi Musa dalam membimbing Bani Israil. Menurutnya, umat Nabi Muhammad SAW akan kesulitan menjalankan kewajiban dalam jumlah tersebut.

Rasulullah SAW kemudian kembali memohon keringanan kepada Allah. Jumlah sholat dikurangi, tetapi Nabi Musa kembali menyarankan agar Rasulullah meminta pengurangan karena jumlah yang tersisa dinilai masih berat.

Proses itu berlangsung beberapa kali. Rasulullah SAW berulang kali kembali menghadap Allah, kemudian menemui Nabi Musa. Setiap permohonan diikuti pengurangan hingga akhirnya kewajiban tersebut ditetapkan menjadi lima sholat sehari semalam.

Saran Nabi Musa Menunjukkan Perhatian kepada Umat Muhammad

Peran Nabi Musa AS dalam rangkaian turunnya perintah sholat memperlihatkan perhatian seorang nabi kepada umat setelahnya. Nabi Musa tidak menolak perintah Allah. Ia memahami beratnya tugas membimbing manusia agar terus menjaga ibadah.

Pengalamannya bersama Bani Israil membuat Nabi Musa mengetahui bahwa manusia memiliki kelemahan, kesibukan, kelelahan, dan kecenderungan lalai. Ia meminta Rasulullah SAW kembali menghadap Allah demi memperoleh keringanan bagi umat Islam.

Rasulullah SAW mengikuti saran itu beberapa kali. Ketika jumlah sholat telah menjadi lima, Nabi Musa masih menyarankan agar beliau kembali meminta pengurangan.

Namun, Rasulullah SAW menyatakan telah merasa malu untuk kembali meminta keringanan. Beliau menerima ketetapan lima waktu tersebut. Riwayat ini memperlihatkan kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya sekaligus kepatuhan penuh terhadap keputusan Allah.

Percakapan antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS juga menggambarkan hubungan antarnabi yang saling menguatkan. Meskipun hidup pada masa berbeda, mereka membawa tujuan yang sama, yaitu membimbing manusia untuk taat kepada Allah.

Lima Sholat Bernilai Seperti 50 Sholat

Pengurangan jumlah sholat tidak mengurangi nilai pahala yang telah ditetapkan. Allah menetapkan lima sholat yang dilaksanakan setiap hari memiliki nilai seperti 50 sholat.

“Sholat itu lima, tetapi nilainya lima puluh. Ketetapan-Ku tidak berubah.”

Ketentuan tersebut memperlihatkan keluasan rahmat Allah. Umat Islam hanya diwajibkan melaksanakan lima waktu, tetapi memperoleh pahala berlipat. Setiap sholat dihitung sepuluh sehingga jumlah keseluruhannya setara dengan 50.

Keringanan ini tidak menjadikan sholat sebagai kewajiban yang boleh dipandang ringan. Jumlahnya memang berkurang, tetapi kedudukannya tetap kuat. Lima waktu membentuk susunan ibadah harian yang harus dijaga oleh setiap muslim yang telah memenuhi ketentuan kewajiban.

Subuh dilaksanakan pada awal hari, Zuhur ketika matahari telah bergeser, Asar menjelang sore, Magrib setelah matahari terbenam, dan Isya pada malam hari. Pembagian waktu tersebut membuat hubungan seorang muslim dengan Allah diperbarui sepanjang hari.

Perintah Sholat Diterima Melalui Perjalanan Khusus

Kewajiban puasa, zakat, dan berbagai aturan keagamaan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui wahyu. Sholat lima waktu memiliki keistimewaan karena perintahnya diterima dalam perjalanan Isra Mikraj.

Dalam penjelasan ulama, keadaan ini menunjukkan tingginya kedudukan sholat di antara amal ibadah. Rasulullah SAW diperjalankan dari Makkah menuju Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan ke langit sebelum menerima kewajiban tersebut.

Sholat menjadi pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya melalui bacaan, doa, rukuk, dan sujud. Seorang muslim menghadap kiblat, membaca ayat Al Quran, memuji Allah, memohon petunjuk, dan menyampaikan kebutuhan dalam satu susunan ibadah.

Perintah tersebut diterima Rasulullah SAW untuk disampaikan kepada seluruh umat Islam. Setelah kembali, beliau mengajarkan waktu, gerakan, bacaan, serta tata cara sholat kepada para sahabat.

Keistimewaan cara penerimaan perintah tidak berarti manusia boleh menciptakan bentuk sholat sendiri. Pelaksanaannya harus mengikuti petunjuk Rasulullah SAW karena beliau menjadi penerima sekaligus pengajar kewajiban tersebut.

Jumlah Rakaat Mengalami Penyempurnaan

Sholat yang diwajibkan pada awalnya disebut terdiri atas dua rakaat. Ketentuan bagi orang yang menetap kemudian disempurnakan, sedangkan sholat dalam perjalanan tetap memperoleh keringanan.

Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika sholat pertama kali diwajibkan, jumlahnya dua rakaat untuk orang yang menetap maupun melakukan perjalanan. Sholat bagi musafir tetap dua rakaat, sedangkan jumlah rakaat bagi orang yang menetap ditambah.

Ketentuan yang dikenal umat Islam kemudian menetapkan Subuh sebanyak dua rakaat, Zuhur empat rakaat, Asar empat rakaat, Magrib tiga rakaat, dan Isya empat rakaat.

Sholat Magrib tetap berjumlah tiga rakaat. Sementara itu, sholat empat rakaat dapat dikerjakan menjadi dua rakaat oleh musafir yang memenuhi ketentuan. Keringanan tersebut memperlihatkan bahwa kewajiban sholat tetap dipertahankan meskipun seseorang sedang menempuh perjalanan.

Perubahan jumlah rakaat tidak mengubah jumlah waktu. Kewajiban hariannya tetap lima, sedangkan bentuk pelaksanaan mengikuti ketentuan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Sholat Menjadi Tiang Kedisiplinan Seorang Muslim

Lima waktu sholat membagi kegiatan manusia ke dalam susunan yang teratur. Seorang muslim tidak menunggu hingga memiliki waktu luang untuk beribadah. Ia justru mengatur pekerjaan, perjalanan, pertemuan, dan waktu istirahat agar tidak mengabaikan sholat.

Subuh mengajarkan seseorang bangun sebelum kegiatan harian dimulai. Zuhur menghentikan kesibukan ketika pekerjaan sedang berlangsung. Asar mengingatkan bahwa hari mulai bergerak menuju sore. Magrib menyambut pergantian siang menuju malam, sedangkan Isya menutup kegiatan sebelum beristirahat.

Setiap waktu memiliki batas. Sholat yang dijaga pada waktunya melatih seseorang menghormati janji dan tidak menunda kewajiban. Ketepatan waktu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaannya.

Kewajiban tersebut juga tidak hanya berlaku di masjid. Seorang muslim dapat melaksanakan sholat di rumah, kantor, sekolah, kebun, kapal, pesawat, atau tempat lain yang memenuhi syarat kebersihan dan keamanan.

Sholat Tetap Dikerjakan dalam Berbagai Keadaan

Kewajiban sholat tidak gugur hanya karena seseorang sedang melakukan perjalanan, sakit, atau menghadapi keterbatasan fisik. Syariat memberikan tata cara yang disesuaikan dengan kemampuan tanpa menghilangkan kewajiban pokoknya.

Musafir dapat memperoleh keringanan berupa pemendekan sholat tertentu dan penggabungan waktu sesuai ketentuan. Orang sakit dapat sholat sambil duduk apabila tidak mampu berdiri. Jika duduk pun tidak sanggup, pelaksanaan dapat disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

Keringanan tersebut berbeda dari meninggalkan sholat. Islam memperhitungkan kemampuan manusia, tetapi tetap menjaga hubungan ibadah pada lima waktu yang telah ditetapkan.

Hal ini sejalan dengan asal penetapan sholat dalam Isra Mikraj. Jumlah awal yang berat dikurangi menjadi lima, tetapi kewajibannya tetap dipertahankan. Rahmat dan tanggung jawab ditempatkan secara berdampingan.

Peringatan Isra Mikraj Mengarahkan Umat Menjaga Sholat

Masyarakat muslim di berbagai daerah memperingati Isra Mikraj melalui pengajian, pembacaan Al Quran, ceramah, doa bersama, dan kegiatan sosial. Acara tersebut menjadi sarana untuk mempelajari perjalanan Rasulullah SAW sekaligus mengingat kembali kedudukan sholat lima waktu.

Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah menjelaskan bahwa peringatan Isra Mikraj bukan ritual khusus yang diwajibkan oleh agama. Kegiatan tersebut dapat dilakukan sebagai sarana pendidikan dan syiar selama tidak dianggap sebagai kewajiban serta tidak diisi dengan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Peringatan yang hanya berhenti pada acara seremonial belum menyentuh pesan utama perjalanan Rasulullah SAW. Perintah yang dibawa pulang dari Mikraj adalah sholat lima waktu, sehingga perhatian umat seharusnya diarahkan pada ketepatan waktu, kekhusyukan, kebersihan, bacaan, dan kesungguhan dalam melaksanakannya.

Anak anak dapat diperkenalkan kepada kisah Isra Mikraj melalui bahasa yang mudah dipahami. Mereka perlu mengetahui bahwa sholat bukan sekadar kegiatan yang diwariskan keluarga, tetapi perintah yang diterima Rasulullah SAW dalam perjalanan agung.

Perintah dari Langit Dijalankan di Bumi Setiap Hari

Turunnya perintah sholat menghubungkan perjalanan langit dengan kehidupan manusia di bumi. Rasulullah SAW menerima kewajiban tersebut di tempat yang tinggi, lalu membawanya kepada masyarakat yang bekerja, berdagang, bertani, melakukan perjalanan, membangun keluarga, dan menghadapi berbagai persoalan.

Sholat tidak membatasi manusia dari kegiatan dunia. Ibadah ini memberi jeda agar manusia tidak sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaan dan urusan pribadi. Ketika azan terdengar, seorang muslim diingatkan untuk meninggalkan kesibukan sejenak dan kembali menghadap Allah.

Gerakan sholat juga menempatkan seluruh manusia dalam posisi yang sama. Orang kaya, pekerja, pejabat, pedagang, dan masyarakat biasa berdiri menghadap kiblat yang sama. Mereka membaca bacaan yang sama, melakukan rukuk, lalu meletakkan dahi di tempat sujud.

Perintah yang semula berjumlah 50 dan diringankan menjadi lima terus dilaksanakan umat Islam di berbagai wilayah dunia. Setiap pergantian waktu membawa panggilan yang sama, dimulai dari Subuh hingga Isya, sebagai amanah yang diterima Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra Mikraj.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *