Pasar Cipulir Terendam Banjir, Pedagang Bergerak Selamatkan Dagangan

Berita207 Views

Pasar Cipulir Terendam Banjir, Pedagang Bergerak Selamatkan Dagangan Pasar Cipulir, Jakarta Selatan, kembali terendam banjir setelah hujan deras mengguyur Jakarta pada Sabtu, 2 Mei 2026. Genangan air yang masuk ke lantai dasar pasar membuat para pedagang harus kembali ke kios untuk menyelamatkan barang dagangan, membersihkan lumpur, dan memindahkan stok ke tempat lebih tinggi. Banjir yang masih bertahan hingga malam hari membuat aktivitas pedagang terganggu, terutama mereka yang berjualan pakaian, kemeja, dan barang berbahan kain yang mudah rusak bila terkena air. Informasi yang beredar dari laporan lapangan menyebut genangan masih berada di kisaran 15 sentimeter pada malam hari, setelah sebelumnya sempat lebih tinggi saat sore.

Pedagang Kembali ke Kios Saat Air Belum Surut

Banjir yang merendam Pasar Cipulir membuat sebagian pedagang tidak bisa langsung beristirahat setelah pulang. Mereka harus kembali ke pasar karena khawatir barang yang ditinggalkan di kios terkena air dan lumpur. Di lantai dasar, lorong pasar terlihat masih basah, sebagian kios gelap, dan beberapa pedagang bergerak cepat mengamankan dagangan.

Sejumlah pedagang memilih membersihkan area kios sebelum lumpur mengering. Jika lumpur dibiarkan sampai kering, pekerjaan membersihkan lantai dan lorong akan jauh lebih sulit. Selain itu, sisa air yang masuk ke tumpukan barang dapat meninggalkan bau, noda, dan merusak kualitas dagangan.

Miran Pulang Lalu Balik Lagi demi Barang

Salah satu pedagang bernama Miran, berusia 39 tahun, disebut kembali dari rumahnya di Jembatan Lima untuk membersihkan kios. Ia memakai alat pendorong air untuk mengeluarkan genangan dan lumpur dari lorong pasar. Langkah itu dilakukan karena ia khawatir barang dagangan rusak bila sisa air dibiarkan terlalu lama.

Bagi pedagang pasar, barang dagangan adalah modal utama. Satu karung pakaian, satu tumpuk kemeja, atau satu dus stok baru bisa bernilai jutaan rupiah. Ketika air masuk ke lantai dasar, kerugian tidak hanya berasal dari barang yang basah, tetapi juga dari waktu berjualan yang hilang.

Barang Dinaikkan ke Tempat Lebih Tinggi

Pedagang lain memilih cara cepat dengan menaikkan barang ke tangga, meja, rak, atau area yang lebih tinggi. Cara ini sudah menjadi kebiasaan saat hujan deras turun dan air mulai masuk. Bagi mereka, kecepatan menjadi kunci karena air bisa naik dalam waktu singkat.

Syaiful, seorang pedagang kemeja di area bawah tangga, menyebut pedagang biasanya langsung menaikkan barang menggunakan karung ke atas tangga ketika hujan mulai mengancam. Ia mengatakan air bisa naik cepat, bahkan dalam waktu sekitar satu jam area bawah sudah penuh genangan.

Genangan Malam Masih Mengganggu Lantai Dasar

Pada Sabtu malam, genangan di Pasar Cipulir dilaporkan masih bertahan setinggi sekitar 15 sentimeter. Air menggenangi area pintu masuk, lorong kios, dan bagian pasar yang berkontur rendah. Meski tidak setinggi saat puncak banjir, genangan tetap menyulitkan pedagang yang harus membersihkan dan memindahkan barang.

Laporan yang mengutip pantauan lokasi menyebut kondisi itu masih terlihat hingga sekitar pukul 20.30 WIB. Hujan deras sebelumnya mengguyur Jakarta sejak sekitar pukul 14.00 WIB, lalu air mulai memenuhi area rendah di dalam pasar.

Puncak Air Sempat Mencapai Sekitar 50 Sentimeter

Menurut keterangan pedagang, genangan sempat lebih tinggi pada sore hari. Miran menyebut banjir mencapai sekitar 50 sentimeter pada kisaran pukul 15.00 sampai 16.00 WIB. Ketinggian tersebut cukup untuk merendam bagian bawah kios dan mengancam barang yang diletakkan di lantai.

Banjir setinggi itu sangat menyulitkan pedagang pakaian. Kain yang terkena air kotor tidak cukup hanya dikeringkan. Pedagang harus mencuci, memilah, mengecek noda, dan memastikan barang masih layak jual. Jika kualitas turun, harga jual ikut berkurang.

Lorong Kios Jadi Titik Paling Rentan

Lantai dasar pasar menjadi bagian yang paling mudah tergenang karena posisinya lebih rendah. Saat air masuk, lorong antar kios berubah menjadi jalur genangan. Pedagang harus berjalan di air sambil membawa karung, hanger, kotak, atau barang dagangan lain.

Kondisi seperti ini membuat aktivitas jual beli terhenti. Pembeli enggan masuk karena lantai tergenang, sementara pedagang lebih fokus menyelamatkan barang. Transaksi yang biasanya berjalan hingga malam berubah menjadi pekerjaan darurat membersihkan kios.

Drainase dan Rumah Pompa Kembali Disorot

Pedagang tidak hanya menyoroti hujan deras. Mereka juga mengeluhkan saluran air di sekitar pasar yang dianggap belum bekerja baik. Menurut pedagang, air dari parit bagian depan pasar tidak terbuang secara optimal sehingga masuk ke area pertokoan setiap hujan turun.

Keluhan ini menunjukkan bahwa banjir Pasar Cipulir bukan sekadar urusan air hujan yang datang sesaat. Para pedagang merasa ada persoalan saluran, posisi pasar yang rendah, dan pekerjaan infrastruktur yang belum tuntas di sekitar lokasi.

Pedagang Keluhkan Aliran Air dari Got Depan

Miran menyebut banjir tidak hanya berasal dari kali, tetapi juga dari got bagian depan pasar. Ia menilai air dari saluran tersebut seperti tidak tersedot untuk dibuang, sehingga akhirnya masuk ke area pasar. Keluhan itu muncul karena genangan berulang setiap kali hujan deras turun.

Bagi pedagang, masalah saluran air menjadi hal yang sangat menentukan. Jika air cepat keluar, pedagang masih bisa membersihkan kios dan melanjutkan aktivitas. Namun, bila air tertahan berjam jam, barang dagangan makin lama berada di lingkungan lembap.

Galian Rumah Pompa Disebut Tak Kunjung Selesai

Syaiful juga menyoroti proyek galian rumah pompa di depan pasar. Ia menilai pekerjaan itu sudah berlangsung lama dan belum selesai, sementara banjir makin sering dirasakan pedagang. Menurutnya, sejak ada galian tersebut, banjir menjadi keluhan yang terus berulang.

Keluhan pedagang seperti ini perlu mendapat perhatian karena pasar adalah pusat ekonomi harian. Ketika saluran air terganggu, kerugian tidak berhenti pada satu hari banjir. Pedagang bisa kehilangan pelanggan, mengeluarkan biaya tambahan untuk membersihkan kios, dan menanggung kerusakan stok.

Pasar Cipulir Sudah Berkali kali Terendam

Banjir di Pasar Cipulir bukan kejadian yang baru pertama kali terjadi. Kawasan ini beberapa kali menjadi sorotan karena lantai dasar pasar tergenang setelah hujan deras dan luapan aliran air di sekitarnya. Pada 20 Februari 2026, Pasar Cipulir juga terendam banjir dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter akibat luapan Kali Pesanggrahan. Saat itu, air mulai masuk sekitar pukul 05.00 WIB setelah hujan mengguyur wilayah Jabodetabek.

Pengalaman banjir berulang membuat pedagang memiliki pola penyelamatan barang sendiri. Begitu hujan deras turun dan air mulai naik, mereka segera mengangkat stok, menutup kios, atau meminta bantuan porter untuk memindahkan karung ke area atas.

Pedagang Tetap Berusaha Berjualan Saat Genangan Tidak Tinggi

Dalam beberapa kejadian sebelumnya, aktivitas jual beli tetap berlangsung meski pasar tergenang. Pada Februari 2026, pembeli masih terlihat mendatangi pasar walau harus berjalan melewati genangan. Pedagang juga tetap melayani pembeli sambil menjaga agar barang tidak terendam.

Namun, kondisi seperti itu tidak ideal. Pembeli tidak bisa bergerak nyaman, barang sulit ditata, dan pedagang harus bekerja di tengah air kotor. Pakaian yang biasanya digantung rapi menjadi harus dinaikkan ke tempat lebih aman.

Omzet Mudah Turun Saat Banjir Datang

Banjir membuat aktivitas jual beli melambat. Sebagian pedagang memilih menutup kios karena air masuk, sementara pembeli menunda datang. Dalam laporan banjir Februari 2026, genangan di Pasar Cipulir disebut mengganggu aktivitas pedagang dan membuat sebagian kios tutup.

Bagi pedagang pakaian, satu hari sepi bisa sangat terasa. Mereka tetap harus membayar biaya operasional, sewa atau iuran, transportasi, makan, dan tenaga bantu. Jika banjir terjadi berulang, beban usaha menjadi lebih berat.

Hujan Deras Picu Genangan di Sejumlah Titik Jakarta Selatan

Banjir Pasar Cipulir terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah Jakarta. Pada hari yang sama, BPBD DKI Jakarta juga mencatat ada 12 RT di Jakarta Selatan yang terendam banjir akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut. Data itu menunjukkan hujan pada Sabtu, 2 Mei 2026, tidak hanya memicu genangan di satu titik.

Meski lokasi 12 RT yang dicatat BPBD berada di Petogogan, situasi tersebut memberi gambaran bahwa Jakarta Selatan sedang menghadapi tekanan air hujan yang cukup besar pada hari itu. Genangan di pasar, permukiman, dan jalan membuat mobilitas warga ikut terganggu.

Cuaca Ekstrem Membuat Pasar Rentan

Pasar tradisional dan pusat grosir yang berada di kawasan rendah sangat rentan saat hujan deras. Jika saluran air tidak mampu menampung debit hujan, air akan mencari jalur paling rendah. Lantai dasar pasar biasanya menjadi titik yang cepat tergenang.

Kondisi Pasar Cipulir memperlihatkan bahwa pedagang tidak hanya membutuhkan tempat berdagang, tetapi juga sistem pengamanan dari air. Tanpa saluran yang bekerja baik, mereka terus berada dalam posisi waspada setiap kali langit gelap dan hujan mulai turun.

Aktivitas Ekonomi Harian Ikut Terganggu

Pasar Cipulir dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan pakaian. Banyak pedagang menggantungkan pendapatan dari transaksi harian. Saat pasar tergenang, proses bongkar muat, distribusi barang, kedatangan pembeli, dan kegiatan pemindahan stok ikut terganggu.

Banjir juga membuat biaya tidak terlihat menjadi lebih besar. Pedagang membutuhkan tenaga tambahan untuk mengangkat barang, membeli alat kebersihan, mencuci barang yang basah, dan mengganti kemasan yang rusak. Semua itu mengurangi keuntungan yang seharusnya mereka dapat dari berjualan.

Kerugian Pedagang Tidak Selalu Langsung Terlihat

Kerugian akibat banjir tidak hanya dihitung dari barang yang hanyut atau rusak parah. Pada pedagang pakaian, air kotor bisa membuat stok kehilangan nilai jual. Pakaian yang lembap bisa berbau, berubah warna, atau terkena noda lumpur. Meski masih bisa dicuci, tampilannya belum tentu kembali seperti semula.

Pedagang juga harus kehilangan waktu. Saat seharusnya melayani pembeli, mereka harus membersihkan kios, mengangkat karung, mengeringkan lantai, dan menyusun ulang stok. Waktu kerja berubah menjadi kerja pemulihan.

Barang Kain Sangat Mudah Rusak

Pasar Cipulir banyak diisi pedagang pakaian. Barang berbahan kain sangat sensitif terhadap air. Jika terkena banjir, pedagang harus segera memisahkan barang basah dari barang kering agar kerusakan tidak menyebar. Kain yang tertumpuk dalam karung bisa lembap dan berjamur.

Kerusakan seperti ini sering tidak langsung terlihat pada hari pertama. Setelah beberapa hari, bau apek atau noda baru muncul. Karena itu, pedagang biasanya berusaha memindahkan barang secepat mungkin sebelum air benar benar masuk ke tumpukan stok.

Modal Berputar Bisa Tertahan

Barang yang rusak atau harus dicuci ulang membuat modal tertahan. Pedagang tidak bisa langsung menjual stok tersebut. Jika barang harus didiskon, keuntungan menurun. Jika barang tidak layak jual, pedagang menanggung kerugian penuh.

Dalam usaha kecil dan menengah, modal dagang biasanya terus berputar. Ketika stok rusak, arus uang ikut tersendat. Kondisi ini membuat banjir berulang menjadi persoalan serius bagi pedagang pasar.

Pembersihan Jadi Pekerjaan Berat Setelah Air Turun

Saat air mulai surut, pekerjaan pedagang belum selesai. Lantai harus disapu, lumpur harus dibuang, rak dan karung harus dicek, kabel listrik perlu diperhatikan, dan barang harus disusun kembali. Pembersihan harus dilakukan cepat agar kios bisa kembali dipakai.

Pedagang yang terlambat membersihkan kios berisiko menghadapi lantai licin, bau tidak sedap, dan noda lumpur yang lebih sulit dibersihkan. Itu sebabnya sebagian pedagang memilih kembali ke pasar pada malam hari, meski genangan belum sepenuhnya hilang.

Lumpur Menjadi Masalah Setelah Genangan

Miran menyebut salah satu alasan ia kembali adalah membersihkan lumpur sebelum mengering. Lumpur yang terbawa banjir bisa masuk ke sela lantai, bawah rak, dan lorong kios. Jika mengering, lumpur melekat dan memerlukan tenaga lebih besar untuk dibersihkan.

Kondisi pasar yang gelap pada malam hari membuat pembersihan semakin sulit. Pedagang harus berhati hati karena lantai licin, ada kabel, dan barang dagangan bertumpuk di area sempit.

Kios Harus Siap Kembali Dibuka

Bagi pedagang, setiap jam kios tutup berarti kehilangan peluang transaksi. Setelah banjir, mereka ingin kios segera kembali rapi agar pembeli tidak ragu masuk. Namun, proses itu tidak mudah jika air masih tertahan dan saluran belum lancar.

Pembersihan juga membutuhkan kerja bersama. Jika hanya satu dua pedagang yang membersihkan, air dari lorong lain tetap bisa mengalir kembali. Karena itu, penanganan pasar setelah banjir perlu melibatkan pengelola, petugas kebersihan, dan pedagang.

Pengelola Pasar dan Pemerintah Daerah Ditunggu Bergerak

Banjir yang kembali merendam Pasar Cipulir membuat pedagang menunggu langkah lebih nyata. Mereka membutuhkan penyedotan air cepat, saluran yang dibersihkan, serta kepastian pekerjaan infrastruktur di depan pasar. Tanpa perbaikan menyeluruh, pedagang akan terus mengulang pola yang sama setiap hujan deras datang.

Pasar bukan hanya bangunan ekonomi, tetapi juga tempat ribuan orang mencari penghidupan. Ketika lantai dasar berkali kali tergenang, masalah tersebut perlu dibaca sebagai gangguan terhadap kehidupan pedagang kecil, bukan sekadar genangan sementara.

Pompa dan Drainase Harus Bekerja Saat Hujan

Salah satu hal yang paling dibutuhkan pedagang adalah sistem pembuangan air yang siap bekerja saat hujan deras. Pompa, saluran, dan parit harus dalam kondisi baik sebelum hujan, bukan baru diperiksa setelah air masuk ke kios.

Pada kejadian banjir Februari 2026, laporan video detik menyebut lantai dasar pasar masih terendam hingga siang dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter, sementara pedagang membersihkan kios dari air bercampur pasir. Laporan itu juga mencatat adanya satu unit pompa Suku Dinas Air DKI di seberang pasar yang terlihat tidak aktif saat itu.

Komunikasi dengan Pedagang Perlu Dibuka

Pedagang membutuhkan informasi jelas tentang penyebab genangan, jadwal pekerjaan saluran, dan langkah yang akan dilakukan. Jika ada proyek rumah pompa atau galian di sekitar pasar, mereka perlu tahu kapan selesai dan bagaimana pengaruhnya terhadap aliran air.

Komunikasi yang jelas akan mengurangi rasa bingung pedagang. Mereka tidak hanya ingin mendengar imbauan waspada, tetapi juga melihat pekerjaan lapangan yang membuat pasar lebih aman saat hujan.

Pelajaran dari Banjir Pasar Cipulir

Banjir Pasar Cipulir memperlihatkan betapa rentannya pusat perdagangan saat sistem air tidak bekerja optimal. Pedagang sudah berusaha cepat menyelamatkan barang, tetapi upaya pribadi tidak cukup bila genangan terus berulang. Mereka membutuhkan penanganan saluran, pompa, dan area rendah pasar yang lebih serius.

Kejadian Sabtu malam itu juga menunjukkan kekuatan pedagang kecil dalam menjaga modalnya sendiri. Mereka kembali ke kios, membersihkan lumpur, mengangkat karung, dan menata barang agar bisa berjualan lagi. Di balik genangan 15 sentimeter yang terlihat sederhana, ada kecemasan besar tentang stok dagangan, pelanggan, biaya usaha, dan pendapatan keluarga.

Pasar Perlu Sistem Siaga yang Lebih Rapi

Pasar Cipulir membutuhkan sistem siaga banjir yang mudah dijalankan. Peringatan dini kepada pedagang, jalur evakuasi barang, titik penyimpanan sementara, pompa yang siap menyala, dan petugas yang berjaga saat hujan lebat dapat membantu mengurangi kerugian.

Jika pasar sudah mengetahui titik yang paling cepat tergenang, pengelola bisa menyiapkan papan penanda, rak tinggi, dan jalur pemindahan barang. Cara seperti ini tidak menyelesaikan akar persoalan, tetapi dapat membantu pedagang saat air tiba tiba naik.

Pedagang Menunggu Pasar yang Lebih Aman dari Genangan

Pedagang Pasar Cipulir tidak meminta banyak. Mereka ingin bisa membuka kios tanpa selalu dihantui banjir setiap hujan besar. Mereka ingin stok pakaian aman, lorong pasar kering, pembeli nyaman datang, dan saluran air tidak menjadi sumber kecemasan.

Selama persoalan drainase, luapan air, dan pekerjaan infrastruktur belum selesai, pedagang akan terus bersiap dengan karung, alat pendorong air, dan tenaga ekstra setiap kali hujan deras turun di Jakarta Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *