|
Sintesis Spiritual Peradaban Jawa |
|
Written by admin
|
|
Friday, 05 June 2009 |
Judul Buku : Politik Perhatian, Rasa dalam Kebudayaan Jawa
Penulis : Paul Stange
Penerbit : LKIS Yogyakarta
Cetakan : Maret 2009
Tebal : xxix+366 hal.
Perensi : Ahmad Shiddiq Rokib*
Sebagai “pewaris sah nilai-nilai spritual Jawa”, aliran kepercayaan
sebenarnya menghadapi tantangan serius. Dari segi riil politik mereka
dituntut untuk mendudukkan dirinya secara tepat di hadapan kekuasaan
negara dan lalu lintas hubungan dengan kelompok-kelompok agama yang
menggeliat memproklamirkan kebangkitan. Derasnya arus modernisasi yang
membawa semangat hidup pragmatis dan konsumeris, juga memaksa mereka
merekonstruksi dan melakukan revitalisme nilai-nilai spritual dan
kebudayaan.
|
|
|
Written by admin
|
|
Monday, 25 May 2009 |
Judul : Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab-Islam(Vol.3)
Penulis : Adonis
ISBN : 979 1283 788 978 979
Tebal : lxvi + 246 hlm
Harga : Rp105.000,-
Modernitas yang muncul saat ini merupakan problem mendasar yang dihadapi masyarakat Arab-Islam. Ia merupakan perpanjangan dari apa yang disebut sebagai tahawwul (perubahan), dan perubahan muncul dari asumsi adanya kekurangan atau tidak adanya pengetahuan di masa lampau sehingga untuk menghadapinya diperlukan kreativitas terus-menerus.
Sementara itu, salafiyah-konservatif yang merupakan perpanjangan dari apa yang disebut sebagai tsabât (kemapanan) berasumsi bahwa pengetahuan melalui teks dan naql adalah paripurna sehingga kemodernan tidak memiliki makna pentingnya ketika berhadapan dengan suatu bahasa yang telah mewujudkan kreativitas paripurnanya yang tidak mungkin dilampaui.
|
|
Last Updated ( Monday, 25 May 2009 )
|
|
|
Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil |
|
Written by admin
|
|
Wednesday, 20 May 2009 |
Judul Buku : Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kiai
Penulis : H.M. Madchan Anies
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : xii + 180 halaman
Peresensi : Abdul Halim Fathani Yahya*)
Umat Islam di Indonesia khususnya warga NU (Nahdliyin) telah
mentradisikan tahlil dalam berbagai hajatan, seperti yang biasa
dilaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari dari kematian
keluarga/tetangganya. Di kalangan pesantren, santri dan keluarga ndalem
biasanya menyelenggarakan acara haul untuk melakukan “kiriman doa”
kepada kiainya yang telah meninggal dunia. Tentang tahlil, sebagian
masyarakat kita masih terkotak pada dua kelompok pro dan kontra. Ada
yang menganggap bahwa tahlil merupakan tradisi baru, yang tidak pernah
diajarkan oleh Nabi SAW, mereka menganggap tradisi tahlil sebagai
bid’ah, sehingga tidak selayaknya sebagai seorang muslim untuk
mengamalkannya. Sementara, di pihak lain (baca: kaum Nahdliyyin), meski
sebagian dari mereka belum tahu persis landasan hukumnya, namun hal ini
tidak mengurangi semangatnya untuk mengamalkan tahlil.
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 7 - 9 of 47 |