|
Pendewasaan Politik Lewat Televisi |
|
Written by admin
|
|
Sunday, 22 February 2009 |
|
Jika Anda punya cukup waktu luang untuk nonton televisi, Anda mungkin semakin ''terhibur'' dengan tambah beragamnya jenis tayangan beberapa bulan belakangan ini. Di sela-sela sinetron atau siaran langsung sepak bola, Anda bisa menyaksikan iklan partai politik, bakal calon presiden, anggota legislatif atau kepala daerah berbaur dengan iklan HP, susu bayi, pasta gigi, minyak wangi, minuman energi, dan lain-lain. Hal yang sama bisa Anda temukan di koran, majalah, tabloid, radio atau bahkan internet. Tokoh-tokoh politik nampang silih berganti dengan artis atau model yang menjadi bintang iklan produk komersial.
Kita semua mafhum, iklan politik memang bukan hal yang baru lagi. Di era kejayaan media sekarang ini, adigium ''siapa menguasai media, dia menguasai dunia'' tampaknya sudah tak terbantahkan. Maka, media massa menjelma sebagai medan pertempuran utama kekuatan-kekuatan politik yang memperebutkan kekuasaan. Jika dulu kekuatan partai diukur dari jumlah para pendukung yang ikut pawai jalanan, rapat umum atau pentas akbar, sekarang ukurannya adalah popularitas yang diperoleh dari tanggapan dan penilaian responden atas iklan dan berita politik di media massa. Apakah ini pertanda bahwa politik kita semakin modern? Mungkinkah ini sinyal dari demokrasi kita yang semakin dewasa?
|
|
|
Written by admin
|
|
Thursday, 19 February 2009 |
Judul : Budak Pulau Surga
Penulis : Soegiyanto Sastrodiwiryo
Tebal Buku : xii + 486 Halaman
ISBN : 979 1283 34 6
Harga : Rp 47.500,-
Sebuah novel berlatar sejarah tentang perbudakan di Bali, pulau surga,
tempat dewata bersemayam. Di sini peperangan lebih ditujukan untuk
memperebutkan penduduk. Mereka yang takluk diperlakukan sebagai
komoditi. Laku dijual. Dijadikan hadiah. Pembayar utang. Tanda terima
kasih. Belum pernah terjadi kemakmuran dan limpahan harta melebihi
hasil perdagangan budak. Para budak yang kebanyakan sudra menerima
status mereka sebagai sebuah nasib. Bagi kawula, nasib sudah ditentukan
dari atas. Karmapala. Hasil perbuatan masa lalu. Orang-orang jahat cuma
menerima akibat perbuatan mereka.
|
|
Last Updated ( Thursday, 19 February 2009 )
|
|
|
Kopi, Rokok, dan Peradaban |
|
Written by admin
|
|
Wednesday, 18 February 2009 |
|
Ketika pertama membaca buku ini, saya teringat celetukan seorang teman lama yang kebetulan bertemu di Lembayung, sebuah warung kopi di daerah Kotagede Jogja. Saat itu, dengan wajah sama sekali tak serius, dia berkata, "Peradaban besar manusia senantiasa lahir di sekitar air. Karena itu, sering-seringlah datang ke sini. Ngobrol sambil minum kopi."
Kata-kata sederhana teman saya ini sempat menggugah perasaan saya. Saya pikir, memang demikianlah. Kita mengenal peradaban Sungai Nil, peradaban Eufrat dan Tigris, peradaban Sungai Kuning. Di Indonesia sendiri, kerajaan-kerajaan muncul di sisi sungai, seperti Singasari dan Majapahit. Mungkin demikian pula, kerajaan-kerajaan yang lain. Di sisi lain, saya beberapa kali pernah singgah di pondok pesantren yang berbeda, dan mendapati bahwa letak pondok (khususnya pondok-pondok tua) selalu tidak jauh dari sumber air: entah sungai, entah telaga. Demikianlah sejarah takkan membantah celetukan teman saya itu.
|
|
Last Updated ( Wednesday, 18 February 2009 )
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Results 22 - 24 of 47 |