Berita
Buku Terbaru
KH. Tolchah Mansoer 





| KH. Tolchah Mansoer |
|
|
|
| Written by admin | |
| Friday, 12 June 2009 | |
|
Dalam konteks ini, “membaca” sosok Prof. Dr. KH. Moh. Tolchah Mansoer,
SH. (1930-1986) menjadi penting karena beberapa alasan. Pertama,
perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, kegigihan, ketulusan, dan
kerja keras setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi generasi kini.
Tolchah yang berangkat sebagai orang biasa, karena kegigihan dan
kesungguhannya, pada akhirnya menjadi orang yang luar biasa. Di tengah
budaya instan yang kini semakin melanda, figur seperti Tolchah Mansoer
tentu akan menjadi tonggak yang berkata bahwa kesuksesan selalu
membutuhkan perasan keringat dan air mata. Ketiga, harus diakui bahwa sebagian kalangan sering kali masih mempertentangkan ilmu umum dengan ilmu agama sebagai dua kutub yang saling bertolak belakang. Keyakinan yang semacam ini tidak lain adalah sebuah mitos yang tak beralasan. Setidaknya, hal itu terbukti pada diri seorang Tolchah. Ia adalah pakar hukum tata negara terkemuka pada masanya, sekaligus seorang kiai mumpuni yang berwibawa. Bahkan, ia mampu memadukan kedua bidang itu—ilmu agama dan ilmu umum—dalam karya-karyanya, sesuatu yang langka pada zamanya. Keempat, hasrat umat Islam untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dapat dikatakan sebagai ‘hasrat laten’. Terlepas ada tidaknya pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menunggangi mereka, sejarah telah membuktikan adanya usaha beberapa pihak untuk mewujudkan hasrat tersebut. Di era kontemporer ini, penghapusan tujuh kata dari Piagam Jakarta beberapa kali juga diangkat kembali menjadi issu yang hangat. Jika kita ‘membaca’ Tolchah, sang pakar hukum tata negara yang kiai ini, tentu hasrat semacam itu menjadi patut untuk disayangkan. Oleh karena itu, buku KH. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU Yang Terlupakan ini menjadi sangat penting. Melalui buku ini, seseorang bukan hanya dapat ‘membaca’ Tolchah secara lebih komprehensif, melainkan juga membaca dirinya sendiri. Sebab, membaca perjalanan hidupnya berarti memetik inspirasi; membaca sepak terjangnya bermakna menuai spirit; dan membaca percik pemikirannya adalah mencerahkan. Lebih dari itu semua, buku ini adalah sebuah usaha melawan alpa: sebuah upaya untuk tidak sekali-sekali melupakan sejarah!
Comments (0)
![]() Write comment
|
|
| Last Updated ( Thursday, 25 June 2009 ) |
| < Prev | Next > |
|---|
List All Products |
|
|
Advanced Search |
|
| Show Cart | |
| Your Cart is currently empty. |